Saturday, July 15, 2017

Cerita Mudik Saya Tuesday 30 Agustus 2011

Cerita Mudik Saya Tuesday 30 Agustus 2011




Tuesday, 30 Agustus 2011

Cerita Mudik Saya
Mudik atau pulang ke kampung halaman merupakan tradisi masyarakat Indonesia ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Saya pun selalu mengusahakan untuk bisa mudik setiap tahunnya. Tarif moda transportasi yang meningkat hingga lebih dari 100% tak membuat saya mengurungkan niat  untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta. Pokoknya selama saya masih mampu, saya akan mengusahakan untuk pulang.

Nah, tahun ini adalah lebaran ketiga saya semenjak bekerja di Pulau Batam. Untuk mencapai kampung halaman saya di Semarang, yang paling praktis adalah dengan menggunakan pesawat. Jika sedang promo, saya hanya perlu membayar 1 juta rupiah saja untuk tiket pesawat pulang pergi. Namun ketika mendekati hari raya, harganya bisa melonjak hingga mendekati angka 4 juta rupiah. Saya pun harus putar otak untuk bisa mengakali mahalnya tiket pesawat ini.

Enaknya tinggal di Pulau Batam, pulau ini sangat dekat dengan negara tetangga Singapore. Untuk mencapai ke sana hanya diperlukan waktu 40 menit saja dengan menggunakan ferry. Tarifnya pun tidak mahal. Hanya 300ribuan untuk perjalanan pulang pergi. Dan dalam sehari ada puluhan jadwal keberangkatan dari pagi hingga malam. Saya pun mengambil rute Batam-Singapore-Jakarta-Semarang untuk mudik tahun ini. Bukannya sombong, tapi sungguh, harga tiket maskapai domestik sangat tidak masuk akal.

Untuk rute Singapore-Jakarta, saya mendapat tiket maskapai Tiger Airways seharga 70SGD atau sekitar 500 ribu rupiah. Untuk rute Jakarta-Semarang, saya naik kereta api senja utama bisnis seharga 200 ribu rupiah. Oh ya, perlu perjuangan tersendiri lho untuk memperoleh tiket kereta api ini. Berhubung saya tinggal di luar Pulau Jawa, saya hanya bisa memesan tiket kereta api melalui telepon. Caranya dengan menghubungi 021-121. Pemesanan tiket kereta sudah bisa dilakukan pada 40 hari sebelum keberangkatan dan penjualan dimulai pada pukul 7 pagi. Yang susah adalah menghubungi call center tersebut. Waktu itu, saya mencoba menghubungi call center dari pukul 7 pagi. Tapi baru tersambung 20 menit kemudian.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkifNDNGBUOqFovWDzkhJ75BD6HAQx6577ZTZt9qb3Sl0nlUGP0i9JawIDuM-6Oa-bEMeqolEiwNzwBOuQ8xLm9U5D8M5KvAc7mbQ7iPqOMiZ3-sOXgOQcp644MpSFAVI49ON_F6zRMK0/s1600/P1040209.JPG
Tiger Airways

Tadinya dengan penuh percaya diri, saya memesan tiket Argo Sindoro. Tapi saya kaget setengah mati ketika diberitahu bahwa harga tiketnya 500 ribu rupiah. Padahal di hari biasa, harga tiketnya hanya 200 ribuan. Akhirnya saya memilih naik Senja Utama seharga 200 ribu rupiah. Untunglah saya masih memperoleh tiket Senja Utama dari Jakarta menuju Semarang. Setelah mendapat kode booking, saya pun membayar melalui ATM. Struknya saya scan karena saya baru bisa mengambil tiket sebulan kemudian sementara tinta di struk ATM lekas pudar. Print out struk ATM inilah yang bisa ditukarkan dengan tiket di stasiun kereta api di Jawa.

Untuk tiket kembali dari Semarang ke Jakarta, tampaknya saya sedang kurang beruntung. Saya gagal memperoleh tiket kereta api. Meskipun saya sudah mencoba menghubungi call center dari jam 7 pagi, saya baru terhubung 30 menit kemudian. Dan semua tiket sudah habis. Akhirnya saya membeli tiket Garuda Indonesia seharga 900 ribuan. Lumayan lah, buat nambah-nambah miles.

Tiket Jakarta-Singapore sudah saya beli akhir tahun lalu. Seharga 0 rupiah alias gratis. Biasa, dari maskapai Air Asia. Kali ini bener-bener gratis. Saya tidak keluar biaya sepeser pun untuk membeli tiket. Bahkan tidak ada biaya kartu kredit. Setelah mengisi data penumpang, tiket langsung confirmed. Tidak ada halaman pembayaran. Tapi saya memperoleh tiket ini setahun yang lalu. Dan sepertinya Air Asia tidak akan pernah lagi memberi tiket gratis seperti ini.

Jadi kalau dijumlahkan, pengeluaran saya untuk mudik tahun ini sekitar 2 juta rupiah. Cukup murah mengingat saya tidak mengambil cuti tahunan dan hanya mengandalkan cuti bersama. Jadwal pulang pergi saya adalah puncak arus mudik dan arus balik dimana harga tiket mencapai puncak tertinggi.

Ok,setelah saya menceritakan tentang kisah perjuangan saya berburu tiket, mari kita kembali ke topik.

Sebagai konsekuensi dari murahnya harga tiket yang saya peroleh, jujur, perjalanan pulang kampung saya ini ribet dan melelahkan. Saya harus menempuh perjalanan selama lebih kurang 30 jam dengan transportasi darat, laut dan udara. Perjalanan dimulai pada hari Jumat tanggal 26 Agustus 2011. Selepas maghrib, saya menuju Terminal Ferry Harbour Bay, Batam. Saya naik ferry pukul 7 malam. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam termasuk immigration clearence, saya langsung menuju Changi Airport. Sesampainya di Changi, saya langsung menuju penginapan favorit saya, yakni di depan kounter cek in Terminal 3. Sepertinya di sinilah penginapan yang paling nyaman di luar transit area di Changi Airport. Kursinya rata dan tidak ada sandaran lengannya. Bagi saya, itu saja sudah cukup.

Kebetulan di Terminal 3 saat itu sedang ada pameran dirgantara Singapore. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun kedirgantaraan Singapore. Di tempat pameran tersebut ada berbagai informasi tentang riwayat perjalanan Singapore aviation dari tahun 1911 hingga 2011. Dari masih Jadoel hingga modern. Dari masih pesawat baling-baling hingga Airbus A380-800. Informasi yang diberikan berupa audio, video dan teks. Ada juga video yang menampilkan pesawat konsep Airbus di masa yang akan datang.

Setelah melihat-lihat pameran, saya bergegas menuju �tempat tidur� saya dan lekas tertidur. Tiba-tiba saya terbangun. Bukan karena suara berisik penumpang yang akan cek in, tapi karena seorang Singaporean yang tidur di kursi di sebelah saya. Dia menerima telepon dari temannya. Dia bercerita bahwa dia sengaja menginap di airportkarena temannya yang lain akan pergi pukul 5 pagi. Yang menjengkelkan adalah, dia berbicara di telepon dengan suara yang sangat kencang. Seperti setengah berteriak. Saya pun duduk dan memandanginya dengan tatapan sinis berharap dia sadar akan kegaduhannya yang mengganggu orang lain. Waktu itu sudah pukul 2 pagi lhoo... Dan suaranya itu keras banget. Announcement aja nggak sampai sekeras itu kok suaranya.

Di seberang saya, ternyata ada seorang bule yang juga merasa terganggu. Dia malah lebih ekstrim menegur si berisik. Dimulai dari yang paling halus seperti �psssssttt...� hingga �Ehemm Ehemm�. Eh, ternyata yang bersangkutan tetap asyik bertelepon ria dengan suara lantangnya. Akhirnya si bule negur langsung. Baru deh si biang kerok kegaduhan nyadar and pindah ke tempat yang agak jauh. Makasih ya Mas Bule sudah menyuarakan aspirasi saya...

Pukul 4 pagi saya kembali terbangun karena suara alarm.